Menembus Sungai dan Jalan Perkebunan, Khitanan Massal TTA Layani 70 Anak di Mantangai
MANTANGAI, KAPUAS — Bagi sebagian keluarga di wilayah pedalaman Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, mendapatkan layanan kesehatan tidak selalu mudah. Jarak, kondisi jalan, hingga biaya transportasi melalui sungai menjadi tantangan yang harus dihadapi masyarakat.
Kondisi tersebut terlihat dalam pelaksanaan program khitanan massal “Satu Senyum, Sejuta Harapan” yang digelar Departemen Rehab DAS PT Tuah Turangga Agung (TTA) Group di Kantor Kecamatan Mantangai, 7–8 September 2026.
Sebanyak 70 anak dari 10 desa mengikuti layanan khitanan yang menjadi bagian dari program Community Development perusahaan sekaligus rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Peserta berasal dari Desa Katunjung, Sei Ahas, Katimpun, Kalumpang, Mantangai Hulu, Mantangai Tengah, Mantangai Hilir, Keladan, Keladan Jaya, hingga kawasan Transmigrasi.
Bagi warga, kegiatan tersebut bukan sekadar layanan khitan gratis. Program ini sekaligus memangkas hambatan geografis yang selama ini membuat sebagian keluarga kesulitan membawa anak mereka mendapatkan tindakan medis.
Pj Kepala Desa Mantangai Hulu, Maria, mengatakan program tersebut sangat membantu keluarga yang terkendala biaya dan akses.
“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih. Bagi warga kami, kegiatan ini sangat membantu meringankan beban ekonomi keluarga yang selama ini terkendala akses dan biaya untuk mengkhitankan anaknya secara medis,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Wansada, orang tua peserta dari Desa Katunjung. Menurutnya, perjalanan menuju pusat kecamatan melalui jalur sungai membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
“Bagi kami yang tinggal di pesisir sungai, ongkos menyewa kelotok menuju pusat kecamatan bisa jauh lebih mahal dibandingkan biaya perawatannya sendiri,” katanya.
Sementara itu, pelayanan medis dilakukan dengan memperhatikan kondisi peserta yang sebagian datang setelah menempuh perjalanan cukup jauh.
Kepala Puskesmas Mantangai, dr. Timothy, mengatakan seluruh peserta terlebih dahulu menjalani pemeriksaan sebelum tindakan.
“Anak-anak ini baru saja menempuh perjalanan jauh membelah sungai dan jalan berdebu. Karena itu, tim kami memberlakukan protokol ketat, mulai dari screening kebugaran, tindakan bedah minor hingga edukasi perawatan pasca-sunat kepada orang tua,” jelasnya.
Dari sisi peserta, rasa gugup pun berubah menjadi kegembiraan. Revin, 10 tahun, mengaku sempat takut sebelum menjalani khitan.
“Awalnya takut dan deg-degan. Tapi dokternya baik dan ramah, jadi tidak terasa sakit. Senang bisa ikut sunatan massal ini,” tuturnya.
Sinergi Lintas Unsur
Camat Mantangai Ellargo Kristianto menilai kegiatan tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan geografis dapat diatasi melalui kolaborasi.
Menurutnya, keterlibatan pemerintah desa, tenaga kesehatan, aparat, perusahaan dan masyarakat menjadi bagian penting dalam memperluas akses pelayanan dasar.
“Ini bukti nyata bahwa keterbatasan geografis bisa ditaklukkan jika kita bersinergi,” tegasnya.
Dukungan juga datang dari unsur Tripika. Perwakilan Kapolsek Mantangai, Ipda Ruby, serta perwakilan Danramil Mantangai, Hendarto, turut hadir dalam kegiatan.
Selain unsur pemerintahan dan aparat, Damang Mantangai Bandin juga memberikan apresiasi. Ia melihat kegiatan tersebut tidak hanya berdampak pada aspek kesehatan, tetapi juga mempertemukan masyarakat adat Dayak pesisir sungai dengan keluarga pendatang di kawasan transmigrasi.
Sementara itu, Department Head Rehab DAS PT TTA Group Bintang Adityawarman menegaskan program tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Menurutnya, tanggung jawab perusahaan tidak berhenti pada aspek ekologis melalui rehabilitasi daerah aliran sungai.
“Kewajiban Rehabilitasi DAS tidak semata-mata tentang memulihkan ekosistem atau mereboisasi lahan kritis. Lebih dari itu, ini tentang merawat dan memberdayakan komunitas yang hidup berdampingan dengan alam tersebut,” ujarnya.
Melalui program “Satu Senyum, Sejuta Harapan”, PT TTA Group berharap keberadaan perusahaan dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, khususnya mereka yang tinggal di wilayah dengan akses pelayanan dasar yang masih terbatas.
Sebanyak 70 anak dari 10 desa akhirnya mendapatkan layanan khitanan medis. Di tengah keterbatasan geografis Mantangai, senyum anak-anak tersebut menjadi gambaran sederhana bahwa akses pelayanan kesehatan dapat diperluas ketika berbagai pihak bergerak bersama. (Kristian Rolly)

